MENDAKI LANGIT


Home » Motivasi » MENDAKI LANGIT

Usiaku waktu itu adalah 9 tahun menuju ke 10 tahun, dan disaat itu bulan juli. Masih teringat jelas dalam benakku ketika banyak teman-temanku yang mengajakku untuk pergi bermain disiang hari ke area persawahan di belakang rumah. Tetapi setiap siang hari, aku selalu tidak diijinkan oleh orangtuaku untuk bermain bersama mereka. Dan pada bulan juni di kampung halamanku yang indah, angin sedang besar-besarnya. Biasanya disaat seperti ini semua teman-temanku berlomba untuk menerbangkan layang-layang.

Di usia 7 tahun aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya layang-layang, aku tidak tahu kenapa, mungkin saja pada masa itu fokusku masih bermain dengan mainan yang lain. Tapi pada usia 9 tahun itulah aku mulai menangkap sedikit hasrat tentang kenapa layang-layang bisa terbang serta meliuk-liuk bebas di angkasa dengan bantuan benang. Dengan bentuknya yang beraneka ragam dan berwarna-warni, siapa yang membuatnya pikirku saat itu, indah sekali.

Suatu sore dibulan itu, teman-temanku semua bermain layang-layang di tanah lapang pinggir kampungku, mereka begitu riang sekali. Ada seorang teman bernama Afif disitu, dia menerbangkan layang-layang yang bagus sekali, akupun mendekatinya dan bertanya “Fif, layanganmu bagus sekali” Afif hanya menoleh sambil tersenyum kecut. Lalu aku mencoba untuk berkomunikasi lagi dengannya yang seolah sudah masuk kedalam lautan angan terbang bersama layang-layangnya.

Fif, bolehkah aku memegang sebentar benang yang kamu pegang itu?
Afif menoleh seraya berkata “Aahhh, pergi sana kamu, ganggu saja kerjaannya!!
Dengan muram akupun berlalu menuju ke temanku yang bernama Trisno. Layang-layang dia tidak begitu bagus tapi cukup berwarna-warni dan terbang jauh lebih tinggi dari punya Afif. Akupun menghampirinya untuk mencoba menenangkan kegundahanku tentang bagaimana rasanya mengendalikan layang-layang yang terbang.

Tris, boleh aku pegang sebentar layang-layangmu?
Udah gak usah, ntar malah putus mau ganti?” ucap trisno begitu ketusnya.

Dan kembali harapanku untuk dapat merasakan sensasi mengendalikan dan menerbangkan layang-layang pupus. Tapi aku masih penasaran dan mencoba menghampiri beberapa temanku yang lainnya. Dan jawaban yang aku dapatkan dari mereka masih tetap sama seperti Afif dan Trisno, ya hampir mirip lah.. akupun hanya bisa menghela nafas panjang dan pulang ke rumah dengan lesu.

Namun keesokan harinya, aku mempunyai ide yang cukup cemerlang untuk anak seusiaku saat itu, di belakang rumahku terdapat banyak sekali tumpukan kertas pembungkus semen. Dan beberapa batang bambu yang masih sangat kuat dan ringan juga mendukung ideku untuk membuat layang-layangku sendiri. Sepulang sekolah aku segera bergegas ke dapur untuk mengambil pisau yang dapat aku pergunakan untuk menghaluskan batang bambu dan sebuah gergaji.

Dengan penuh semangat akhirnya aku menyelesaikan rangka layang-layangku yang pertama dalam waktu satu setengah jam lengkap dengan ukurannya agar seimbang waktu diterbangkan nanti. Kemudian aku memulai memilih kertas semen yang masih layak dan aku rekatkan dengan kertas lain menggunakan lem yang aku dapat dari ruang perkakas. Selesai mengerjakan itu, aku mulai mengukur seberapa lebar dan panjang kertas yang aku butuhkan untuk menutup rangka layang-layang pertamaku.

Dan tepat pukul 5 sore layang-layang pertamaku dan buatanku sendiri telah selesai pengerjaannya. Namun masih ada yang kurang dari layang-layang tersebut, warna kurang seru dan kurang menarik. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan membuatnya esok hari.

Keesokan harinya sepulang sekolah, akupun langsung mulai mengecat kertas yang jadi layang-layag tersebut dengan menggunakan cat warna yang biasanya aku pakai dalam pelajaran menggambar. Selesai mengecat dan memberinya sedikit gambar yang aku suka, aku berpikir bagaimana cara untuk menerbangkannya jika aku tidak mempunyai benang. Dan ide yang keluar dari kepalaku saat itu adalah mengambil benang gulungan milik ibu yang biasa digunakan untuk menjahit, hehe.. sedikit nakal dan jangan dicontoh. Dan pekerjaan hari kedua telah selesai, tinggal menunggu hasil dari pengecatan yang sudah aku lakukan.

Di hari ketiga aku sudah mendapatkan layang-layang yang aku inginkan dengan jerih payahku sendiri. Dan saatnya menerbangkannya ke angkasa serta menunjukkan ke teman-temanku, bahwa aku juga punya layang-layang. Tetapi ternyata setelah aku coba berkali-kali menerbangkannya, layang-layangku tidak dapat terbang. Dan keesokan harinya aku berkutat kembali dengan riset menemukan apa yang membuat layang-layangku tidak dapat terbang. Setelah mencoba membuat layang-layang sekitar 7 kali, barulah aku mendapatkan layang-layang yang sempurna dan dapat terbang dengan stabil, aku sangat puas sekali dapat membuat layang-layangku sendiri.

Dan setelah dewasa seperti sekarang ini aku baru menyadari nilai dari pengalaman tersebut.

Yup.. aku selalu mencoba dan mencoba, mencari solusi dari setiap masalah, sampai aku berhasil melakukan apa yang aku inginkan.

Dan pengalaman itulah yang membuat aku sadar bahwa ternyata karakter kita terbentuk sejak masih anak-anak.

Jadi, itulah kisah layang-layang kertas pertamaku, mana kisahmu?

Layanan Tempat Hipnoterapi bersama Ary Panjalu, Mengatasi Trauma & Phobia, Meningkatkan Percaya diri, Ejakulasi Dini, Berhenti Merokok, dll

Hypnosexolog.com adalah Situs Pengembangan Diri, Self Help & Motivator Berbasis Keilmuan Hypnotherapi.

Contact

Jl. Pasar Nambongan, Nambongan, Sleman, DIY. 55515.